Selamat Datang

Selamat Datang di Blog Saya
Terima Kasih Telah Berkunjung

Rabu, 18 Mei 2011

The Art of War - Laying Plan (1)

1. Sun Tzu said: The art of war is of vital importance to the State.

2. It is a matter of life and death, a road either to safety or to ruin. Hence it is a subject of
inquiry which can on no account be neglected.

3. The art of war, then, is governed by five constant factors, to be taken into account in
one's deliberations, when seeking to determine the conditions obtaining in the field.

4. These are: (1) The Moral Law; (2) Heaven; (3) Earth; (4) The Commander; (5) Method
and discipline.

5,6. The Moral Law causes the people to be in complete accord with their ruler, so that they
will follow him regardless of their lives, undismayed by any danger.

7. Heaven signifies night and day, cold and heat, times and seasons.

8. Earth comprises distances, great and small; danger and security; open ground and
narrow passes; the chances of life and death.

9. The Commander stands for the virtues of wisdom, sincerely, benevolence, courage and
strictness.

10. By method and discipline are to be understood the marshaling of the army in its proper
subdivisions, the graduations of rank among the officers, the maintenance of roads by
which supplies may reach the army, and the control of military expenditure.

11. These five heads should be familiar to every general: he who knows them will be
victorious ; he who knows them not will fail.

12. Therefore, in your deliberations, when seeking to determine the military conditions, let
them be made the basis of a comparison, in this wise:--

13. (1) Which of the two sovereigns is imbued with the Moral law? (2) Which of the two
generals has most ability? (3) With whom lie the advantages derived from Heaven and
Earth? (4) On which side is discipline most rigorously enforced? (5) Which army is
stronger? (6) On which side are officers and men more highly trained? (7) In which army is
there the greater constancy both in reward and punishment?

14. By means of these seven considerations I can forecast victory or defeat.

15. The general that hearkens to my counsel and acts upon it, will conquer: let such a one
be retained in command! The general that hearkens not to my counsel nor acts upon it, will
suffer defeat:--let such a one be dismissed!

16. While heading the profit of my counsel, avail yourself also of any helpful circumstances
over and beyond the ordinary rules.

17. According as circumstances are favorable, one should modify one's plans.

18. All warfare is based on deception.

19. Hence, when able to attack, we must seem unable; when using our forces, we must seem
inactive; when we are near, we must make the enemy believe we are far away; when far
away, we must make him believe we are near.

20. Hold out baits to entice the enemy. Feign disorder, and crush him.

21. If he is secure at all points, be prepared for him. If he is in superior strength, evade him.

22. If your opponent is of choleric temper, seek to irritate him. Pretend to be weak, that he
may grow arrogant.

23. If he is taking his ease, give him no rest. If his forces are united, separate them.

24. Attack him where he is unprepared, appear where you are not expected.

25. These military devices, leading to victory, must not be divulged beforehand.

26. Now the general who wins a battle makes many calculations in his temple ere the battle
is fought. The general who loses a battle makes but few calculations beforehand. Thus do
many calculations lead to victory, and few calculations to defeat: how much more no
calculation at all! It is by attention to this point that I can foresee who is likely to win or
lose.

Selasa, 17 Mei 2011

Home Theater

Format Suara Dolby Digital
Dalam perangkat audio-video seperti home theater in box, fitur suara menjadi sangat penting. Maklum saja, fitur ini menjadi kunci pembuka sensasi menonton di bioskop. Alasan kedahsyatan suara inilah yang membikin orang tertarik beli home theater in box. Di pasar sendiri, ada dua format suara surround yang paling sering diaplikasikan, yakni Dolby dan DTS. Masing-masing format sudah mengalami perkembangan teknologi selama lima-belas tahun belakangan, namun prinsip kerja mereka tetap saja. Yakni, mengatur suara ke dalam enam output sehingga menghasilkan suara menggelegar. Enam output itu berupa satu speaker kanan, speaker kiri, speaker surround kanan, speaker surround kiri, ditambah satu subwoofer untuk mengalirkan suara-suara efek. Jadi, sistem ini disebut 5.1. Dolby Digital mulai dikembangkan tahun 1987, dengan sistem 5.1, adapun Digital Theater System (DTS) baru menyusul empat tahun kemudian. Maka, Dolby Digital pertama kali diaplikasikan tahun 1995 dalam video Clear and Present Danger, sedangkan DTS digunakan dalam laser disk Jurassic Park (1997).
Dolby Digital pertama kali memasuki pasar dengan di rilisnya film Batman Return tahun 1992. Pada tahun-tahun awal ini pesaing utama Dolby Digital adalah Kodak CDS (Cinema Digital Sound) yang ternyata telah lebih dahulu beredar dipasar dari tahun 1990 – 1992 dengan 9 judul film, termasuk diantaranya adalah film Terminator 2. Namun akhirnya sistem CDS tidak digunakan lagi sejak Universal Studio mengadopsi Dolby Digital secara luas. Sampai akhirnya pada tahun 1993, DTS (Digital Theater System) dan SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) diperkenalkan lewat film Jurasic Park dan Last Action Hero. Perlahan-lahan format DTS kemudian banyak di adopsi oleh film-film box-office. Sejak itu dominasi Dolby yang telah puluhan tahun diramaikan dengan persaingan format DTS dan berlomba menjadi sistem audio surround yang terbaik. Belakangan sistem surround tidak saja hanya untuk konsumsi film theater, tetapi kemudian meluas diadopsi oleh sistim audio/video konsumen rumah seperti DVD/Home Theater. Tulisan berikut ini mencoba untuk merangkum beberapa standar sistem surround yang kerap dijumpai di pasar. Ada beberapa logo yang kerap tertera pada cover Radio Tape, VCR, DVD, DVD player, video game dan beberapa sistem audio video yang terintegrasi dalam home theater. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari logo-logo tersebut. Dalam perkembangannya, Dolby menyediakan juga Dolby Pro Logic yang dipercaya merupakan format yang lebih murah. Dolby Digital menggunakan generasi ketiga audiocoding alogarithm (AC-3). Semua canel suaranya sudah digital. Namun, DTS juga memiliki kelebihan yang kurang lebih sama. Lebih lagi, rata-rata produsen elektronik sudah memasang fitur Dolby maupun DTS di produk mereka.

Dolby Pro Logic

Tahun 1982 Dolby Laboratries Inc. mulai memberikan lisensi yang membolehkan sistem audio surround untuk konsumsi perangkat rumah seperti perangkat VCR VHS/Beta. Dolby Surround merupakan trade mark yang menunjukkan bahwa sistem audio dari rekaman audio/video tersebut telah mengadopsi sistem ini. Dolby Surrond adalah standar format rekaman audio yang meng-encode 4 kanal suara (terdiri dari left, right, center dan surround) menjadi 2 kanal stereo. Seiring dengan itu, sistem Dolby Pro
Logic adalah decoder yang di adopsi oleh banyak perangkat pemutar untuk men-decode 2 trek stereo tersebut menjadi empat kanal suara left, right, center dan surround. Tanpa decoder, format Dolby Surround yang terdengar adalah seperti kualitas stereo biasa. Walaupun kadang ada sistem yang dilengkapi dengan 5 speaker, namun 2 speaker surround-nya merupakan satu kanal surround mono.

Dolby Pro Logic II
Sistem ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Dolby Pro Logic (yang dikenal juga dengan Dolby Pro Logic I). Bedanya, sistem Dolby Pro Logic II dapat men-decode 5 kanal surround (left, right, center, left surround dan right surround) dari rekaman stereo. Lima kanal surround dapat di decode dari 2 kanal stereo apa saja dan tidak tergantung apakah rekaman ini telah di encode dengan format Dolby Surround apa tidak. Suara surround yang dihasilkan adalah suara surround stereo.

Dolby Digital 5.1
Pada tahun 1984 Dobly mengembangkan standard encoding digital kanal audio yang dinamakan format AC1 (audio coder 1). Format ini diadopsi oleh beberapa penyelengara broadcast tv satelite dan tv cable. Kemudian di kembangkan format AC2 dengan kualitas audio yang lebih baik. Seiring dengan perkembangan teknologi digital dan chip DSP, kemudian Dolby Laboratories mengembangkan Dolby AC3 di tahun 1992 yang menjadi cikal dari sistem surround Dolby Digital 5.1 atau disebut singkat dengan Dolby Digital (di singkat DD). Dahulu sistem ini disebut juga dengan Dolby SRD (Spectral Recording Digital). Konfigurasi 5.1 memiliki 6 kanal suara yang terpisah. Dinamakan demikian, sebab pada sistem audio ini ada terdapat 5 kanal utama ( right, center, left, right surround, left surround) dan satu kanal dengan notasi 0.1 yaitu kanal efect yang disebut LFE (Low Frequency Effect). Pada prakteknya kanal effect ini di realisasikan dengan sub-woofer, untuk mem-visualisasikan suara efek seperti suara bom, gemuruh gempa dan hentakan kaki dan sebagainya. Namun pengertian kanal LFE tidak mesti sama dengan sub-woofer, sebab LFE membawa informasi fraksi dari frekuensi-frekuensi rendah yang bisa saja dibagi ke speaker surround kanan dan kiri. Besar data rate digital pada sistem DD adalah 384 kbps sampai 448 kbps dengan sampling 48 KHz.

DTS Digital
Tahun 1992 merupakan tahun yang penting buat perkembangan sistem DTS. Saat itu mereka dapat meyakinkan Steven Spielberg melalui demonstrasi format ini yang dimainkan dari rekaman yang disimpan dalam hardisk. DTS kemudian diadopsi untuk film box office Jurasic Park. Sistem DTS Digital atau di singkat DTS juga memiliki 6 kanal suara dengan format 5.1. Sama seperti DD ada kanal LFE yang membawa frekuensi rendah 20 – 80 Hz. Standard rate datanya adalah 1.4 Mbps untuk CD/LD dan 1.5 Mbps untuk DVD dengan sampling 48 KHz dan resolusi 24 bits. Memang ukuran data DTS lebih besar atau standard ratio kompresinya (3.5 : 1 dibanding 12 : 1 pada DD)
lebih tidak efisien dibandingkan DD, namun argumen yang dikemukan oleh DTS adalah semakin kecil ratio kompresi maka suara yang dihasilkan DTS akan lebih natural.
SDDS
Sistem SDDS (Sony Dinamic Digital Sound) dari Sony ini memiliki 6 atau 8 kanal suara (right, left right center, center, left center, sub woofer, right surround dan left surround). Beberapa film layar lebar menggunakan format SDDS terutama film-film produksi Sony Entertainment. Reader dan decoder khusus untuk ini di tambahkan pada proyektor pemutar film. Format SDDS sampai saat ini secara eksklusif hanya ada untuk film bioskop saja dan belum di adopsi untuk konsumen rumah. Tentu saja hingga kini SDDS belum di-support oleh banyak pemutar DVD/ home theater.

THX
Adapun THX Surround, sebenarnya, bukan format suara, seperti halnya Dolby atau DTS. THX adalah perusahaan penyedia tata suara film. Masalahnya, menurut Handojo Soetanto, Manajer Produk Audio Polytron, banyak konsumen home theater in box yang menata speaker-nya bersusun atau jadi satu di depan, seperti displai di toko. Maklum, dengan penataan seperti itu, efek suara yang dihasilkan oleh perangkat home theater tidak akan maksimal. THX bukanlah suatu standard format rekaman suara, melainkan standard bagaimana sistem audio video yang baik dapat dihasilkan. THX merupakan lembaga sertifikasi kualitas performansi audio pada suatu ruangan. Lembaga ini digagas oleh Lucas Films dan nama THX diambil dari film Lucas pertama yang berjudul ‘THX 1138′. Nama Tomlinson Holman yang kala itu selaku direktur teknik Lucas film, bersama timnya tahun 1980an adalah pionir yang menetapkan cikal dari standard THX saat ini.Untuk sistem audio, sertifikasi lebih ditujukan pada desain tata ruang, isolasi, desain akustik, serta pemilihan dan penempatan sistem audio. Ada dua jenis sertifikasi, yang pertama dinamakan THX Ultra untuk ruangan sekelas cinepleks atau theater dan yang kedua THX Select untuk ruangan kecil seperti home theater. Sertifikasi ini tentu akan menambah biaya produksi dari satu film atau perangkat yang mendapat sertifikat. Namun pinsipnya ada harga tentu ada kualitas.
Paparan ini terlepas dari pro dan kontra tentang mana sistem audio surround yang lebih baik. Format-format yang berbeda tentu memiliki karakteristik yang berlainan, serta menawarkan ruang bagi para sinemator berkreasi memvisualisasikan audio untuk mendukung cerita yang diinginkan. Kualitas suara dan efeknya yang sampai ke telinga penonton masih tergantung dari kualitas tata ruang, akustik dan lain sebagainya. Sejauh ini ada 4 format audio yang selalu ada dalam satu rekaman film diantaranya, DD, DTS dan SDDS dan Stereo Analog standard. Untuk film layar lebar informasi audio (salah satu atau ke-empatnya) di print di pinggir film seluloid tersebut. Terkadang ada dua judul film yang sama dibuat dengan rekaman audio yang berbeda. Tulisan di atas masih menyisakan pokok bahasan tentang format surround yang muktahir. Diantaranya adalah format 6.1 dan 7.1 dengan DD EX (Extended), DTS ES (Extended Surround) dan DTS 96-24. Bagi konsumen, perbedaan format-format tersebut menjadi pertimbangan untuk memiliki sistem yang saling kompatibel.

Tips Membangun Home Theather Sendiri…
Berikut ini adalah beberapa ide/gagasan inovatif yang dapat anda pergunakan untuk menata speaker home theater anda.

Meskipun speaker home theater sangat hebat dalam meningkatkan kualitas suara dari film atau musik, speaker tersebut dapat juga merusak penampilan dari dekorasi ruangan home theatre, terutama adalah merusak penampilan dari dinding ruangan. Oleh karenanya dibutuhkan ide-ide kreatif untuk menata penampilan speaker agar terlihat lebih inovatif, sehingga speaker didalam ruangan home theater anda terlihat lebih berbeda dari sekedar “kotak hitam” yang menempel di dinding ruangan anda.

Jika anda menggunakan kombinasi speaker berukuran kecil, anda bisa menyamarkan warnanya dengan warna dinding ruangan anda. Tentunya ini akan sangat membatasi pilihan dekorasi anda, tapi jika anda menyukai ide penggunaaan dinding berwarna putih, hitam atau abu-abu, maka ide ini akan sangat berguna. Cukup potong beberapa bagian plywood (kayu lapis) dengan ukuran kira-kira sama dengan ukuran speaker, nantinya plywood tersebut akan digunakan sebagai alas/dudukan untuk meletakkan speaker. Pasang beberapa balok kayu berukuran kecil sebagai penguat dibagian dinding yang akan dipasangi plywood untuk dudukan speaker, kemudian pasang rak/dudukan speaker dari plywood tersebut ke balok kayu dengan menggunakan sekrup. Langkah selanjutnya, cat dinding, rak/dudukan speaker dan sesuaikan warnanya dengan warna speaker anda.

Anda dapat menggunakan decorative wall sconce (tungkai berukir) yang berukiran indah untuk memegang speaker-speaker anda. Wall sconce tersedia dalam banyak ukuran, bentuk dan model. Anda bisa mencari plaster sconce atau sconce kayu dengan berbagai detail/ukiran dan berbagai lekukan-lekukan. Anda bisa mencari atau memesan sconce dengan bentuk yang antik, misalnya sconce dengan motif/ukiran daun acanthus. Anda juga bisa menggunakan sconce dari kayu Ebony yang diukir dengan motif ukiran ala Afrika. Atau anda juga bisa menggunakan sconcesconce yg tepat akan menghilangkan kesan membosankan pada speaker anda, penampilan speaker anda akan menjadi lebih dari sebuah “kotak kayu” berukuran persegi. yang diukir dengan motif flora. Pemilihan

Jika mau, anda bisa menyembunyikan speaker-speaker home theater tersebut. Letakkan speaker tersebut didalam panel dinding ruangan dengan cara membuat lubang pada dinding dengan ukuran yang sama dengan ukuran speaker-speaker tersebut. Pasang sebuah rak atau papan kecil diantara panel dinding untuk meletakkan dan menahan speaker-speaker tersebut. Kemudian gantung sebuah lukisan dari kain kanvas berukuran besar untuk melapis dan menutupi speaker-speaker tersebut. Jika ingin, anda bisa menambahkan bingkai dari kayu disekitar lukisan kanvas tersebut agar terlihat lebih artistik. Gunakan bingkai kayu tanpa kaca, karena fungsi bingkai kayu tersebut adalah merapikan dan memperkokoh posisi lukisan dari kain kanvas dan speaker yang ada dibaliknya Jika anda berhasil membuatnya maka anda memiliki sebuah benda seni sekaligus juga speaker dibalik kanvas lukisan itu. Anda juga bisa menyembunyikan speaker-speaker tersebut dengan membeli standing vase/pot bunga yang tinggi atau vase gantung, kemudian letakkan speaker-speaker tersebut diantara rerimbunan bunganya. Tapi pastikan pot bunga tersebut tidak tersiram oleh air.

Anda juga dapat memajang konfigurasi speaker-speaker anda dengan meletakkannya pada rak yang digantung didinding. Berbagai macam bentuk rak dinding dapat anda beli atau anda buat sendiri. Mulai dari yang terbuat dari potongan kaca yg sederhana, kaca yang disusun sedemikian rupa, atau bentukan balok segi empat pada dinding.

Cara lain yang juga bisa digunakan untuk membuat rak inovatif bagi speaker anda adalah menjadikan rak tersebut sebagai bagian dari elemen dekorasi. Letakkan rak tersebut didinding ruangan, tata sedemikian rupa posisi rak tersebut, misalnya diantara patung-patung, gambar/lukisan, dan frame lukisan kosong. Bahkan jika anda mau, anda bisa meletakkan rak gantung/rak dinding tersebut didalam area frame lukisan yang kosong. Bisa juga anda membuat beberapa rak, kemudian atur posisi rak yang akan anda gunakan untuk meletakkan/dudukan speaker diantara rak-rak yang lain.

Gunakan rak dinding yang berbahan dasar kayu, atau rak kayu yang dilapisi oleh kulit berwarna gelap, atau rak yang terbuat dari metal/logam untuk memajang speaker anda. Jika ini telah anda lakukan dengan benar, maka anda benar-benar telah menyamarkan speaker-speaker tersebut. Jangankan orang lain..bahkan anda sendiripun akan mengalami kesulitan untuk menentukan yang manakah speaker diantara elemen dekorasi di dinding tersebut.

From: http://architectaria.com/interior-design…

Tips Memilih, Membeli, TV yang berkualitas
Membeli TV memang membingungkan dan itu sebabnya merek paling laku adalah TV-TV keluaran China, keluaran perusahaan yang tidak terkenal dan menggunakan komponen-komponen berkualitas rendah. Banyak pembeli yang tidak tahu apa-apa, memutuskan untuk membeli yang paling murah saja. Namun bila Anda ingin memilih TV berkualitas dan menjadi seorang pembeli yang piawai, sabaiknya bekali diri Anda dengan Tips berikut ini:
1. Ukuran yang pas. Para ahli menyarankan, ukuran layar televisi yang baik (diukur secara diagonal) adalah 1/3 sampai 1/4 jarak pandang dari sofa tempat Anda duduk menyaksikan televisi. Dengan kata lain, pesawat televisi 40 inci harus berjarak 12 kaki/feet (1 feet = 30 centimeter) dari kursi Anda.
2. Resolusi yang pas. Resolusi standar untuk layar TV adalah 108op dan Anda membutuhkannya bila ingin mendapatkan gambar terbaik dari pemutar Blu-ray atau HD-DVD Anda. Bila Anda hanya menggunakannya untuk menonton siaran televisi saja, yang tidak menghasilkan kualitas gambar high definition, Anda bisa memilih alternatif yang lebih murah. yaitu 720p.
3. Harga Yang Pas. Berapa biaya yang Anda keluarkan tergantung pada teknologi TV yang anda beli: plasma, LCD atau rear projection. Secara umum, plasma paling baik, LCD berfungsi baik di ruangan terang, dan rear projection paling murah. Jenis TV LCD memiliki karakteristik khusus. LCD atau Liquid Crystal Display mampu memberikan tampilan gambar maksimal (bersih/tajam/jernih) ketika mentransmisikan sinyal digital, seperti DVD, TV Cable, dsb. LCD kurang dapat memberikan tampilan gambar maksimal ketika digunakan untuk menampilkan sinyal analog seperti sinyal-sinyal di Indonesia pada umumnya (Sinyal stasiun TV di Indonesia). Sehingga Anda akan merasakan kualitas gambar berbeda, ketika menonton film di RCTI/SCTV/dll dibandingkan Anda menyaksikan sebuah Film dengan menggunakan DVD. Karena film di RCTI/SCTV/dll menggunakan sinyal analog sedangkan film di DVD telah menggunakan sinyal digital.
Demikianlah beberapa tips yang dapat Anda pergunakan sebagai bahan sebelum Anda memilih / membeli TV yang Anda sukai, semoga bermanfaat.
From: http://pusatinfoelektronik.com/711/tips-…

Tips Membeli Home Theather..
Sebelum Anda beranjak untuk melengkapi rumah Anda dengan peralatan canggih home theater, ada baiknya Anda cermati dulu apa-apa saja sih perangkat home theater ini. Setelah itu, baru Anda bisa membeli produk home theater mana yang Anda butuhkan. Ingat, sesuaikan dengan kebutuhan, lho!

Tahukah Anda bahwa arti home theater adalah paduan gambar dan tata suara untuk “menciptakan” suatu kondisi seperti yang terpapar di layar. Bukan saja karena efek layarnya yang memang lebih besar dari layar televisi standar, tapi efek sound system juga berpengaruh untuk menampilkan kesan tersebut.

Umumnya, home theater standar terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut:

1. Sumber Sinyal

DVD masih menempati urutan pertama sumber sinyal home theater yang paling optimal. Selain itu, ada pula VCD, CHS player, satellite receiver, televisi, kabel dan laser disc.

2. Dekoder

Peran dekoder sangat vital, layaknya kerja jantung pada manusia. Sinyal suara yang diproses dekoder dan distimulasikan ke dalam masing-masing kanal, sesuai dengan format suara yang ada.

3. Amplifier

Umumnya, amplifier home theater di pasaran sudah menjadi satu dengan dekoder. FUngsinya seperti AV receiver untuk megnatur sumber mana yang dipilih, apakah televisi, satellite receiver, radio, DVD atau VCD.

4. Speaker

FUngsinya untuk mengubah sinyal audio menjadi gelombang suara supaya kita bisa mendengarnya.

5. Monitor

Pilihan biasanya terdiri dari televisi, LCD, CRT, proyektor, dan lain-lain. Monitor akan memproses sinyal video menjadi gambar supaya kita bisa melihatnya. Biasanya pilihan monitor ini bervariasi, tergantung selera si pengguna. Jika Anda memilih layar televisi untuk menjadi monitor home theater Anda, lebih baik siapkan ruang untuk tempat televisi ukuran 29 inci. Soalnya kalau lebih kecil dari itu, sama saja bohong.

Tuesday, 14 April 2009
Cara kerja DVD Player

Cara Kerja DVD Player tak ada bedanya dengan cara kerja CD Player , karena keduanya memiliki komponen optik yang mampu menyorotkan sinar laser berwarna merah ke arah permukaan piringan, atau tepatnya ke permukaan layer dari suatu piringan CD maupun DVD.
DVD player mampu menguraikan (decode) data video MPEG-2 yang diubah menjadi video komposit standar, agar dapat dinikmati pada pesawat televisi, begitu juga dengan proses decoding audionya diterjemahkan oleh prosesor Dolby untuk dikirim menjadi sinyal audio yang berujung di perangkat speaker.
Ada tiga komponen yang sangat mendasar dan paling diperlukan untuk sebuah DVD Player, seperti:
1.Motor penggerak putaran piringan yang berfungsi untuk mengontrol setiap gerakan putar dengan tingkat akurasi yang sangat presisi. Motor ini sangat membantu proses pembacaan trak yang memiliki putaran antara 200 sampai dengan 500 RPM.
2.Sebuah laser dan lensa yang menjadi perangkat utama dalam memfokuskan pembacaan data dari piringan menggunakan penembakan sistem laser , biasanya laser ini sangat kompatibel dengan jenis piringan CD. Kalau CD bekerja pada laser dengan panjang gelombang 780 nanometer, sedangkan untuk DVD pada 635 atau 650 nanometer.
3.Trak mekanik (tracking mechanism) yang merupakan perangkat bantu yang bertugas menggerakkan laser beam mengikuti gerak trak beralur spiral dari setiap piringan. Sistem tracking ini mampu bergerak dengan resolusi tingkat mikron.
Didalam DVD Player terdapat komponen berbasis teknologi komputer yang dikemas dalam blok data berbentuk IC (Integrtated Circuit), dimana salah satunya mengarah ke modul DAC (Digital Analog Converter) yang memang berfungsi untuk menangani data audio dan video, atau bahkan langsung menuju ke komponen dengan format digital, seperti data video digital .

Prinsip kerja DVD Player yang paling fundamental terletak pada pemfokusan dari laser ketika melakukan pembacaan pit-pit dijalur trak, karena titik kerjanya harus dapat terfokus pada setiap permukaan bidang pantul. Ini sangat menentukan terutama waktu menjalankan jenis piringan DVD yang memiliki double-layer , karena dalam satu muka terdapat dua lapis reflektor yang masing-masing memiliki jarak yang berbeda, sehingga titik fokusnya juga tidak sama. Untuk lapis pertama dibuat sebagai bidang reflektif semi-transparan, dimana laser juga harus mampu menembusnya ketika membaca data pada layer inti yang berada di lapis kedua.
Setiap sorotan laser akan langsung mengenai lapisan pemantul bahan polycarbonate dari piringan DVD , kemudian dipantulkan kembali ke komponen opto-electronic yang bertugas mendeteksi setiap perubahan cahaya yang dipantulkan. Jadi dari opto-electronic tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kode-kode binary yang biasa disebut bit.
Pekerjaan paling berat dalam sistem pembacaan dari piringan DVD adalah pada saat menjaga posisi sorotan laser yang harus tetap fokus ditengah-tengah jalur trak data.Tugas ini dibebankan pada tracking system yang selalu bergerak kontinu dari tengah ke pinggir piringan, sehingga akan terjadi pergeseran laser dari arah dalam bergerak keluar secara linier. Kecepatan dari pembacaan datanya juga berlangsung konstan, ini dapat kita buktikan melalui gerakan motor spindle yang berputar semakin lambat ketika mata laser mulai menuju ke pinggir piringan DVD (yus)
Sumber: http://smk5.wordpress.com/2008/03/02/car…

Tips Memilih Proyektor
Kemajuan teknologi informasi yang pesat ikut membawa angin segar di dunia pendidikan, berupa teknologi multimedia. Kini ruang kelas tidak lagi memajang whiteboard – apalagi blackboard – tapi diisi perangkat-perangkat berbasis teknologi untuk kebutuhan presentasi layaknya di kantor-kantor, seperti proyektor, interactive whiteboard, layar LCD, dan notebook/PC.
Karakteristik proyektor
Masing-masing teknologi proyektor memiliki kelebihan dan kekurangannya. Namun, secara umum, kualitas gambar yang diproyeksikan, apapun teknologinya, sangat tergantung pada karakteristik resolusi, kecerahan, warna dan contrast ratio-nya .
1. Resolusi. Resolusi adalah jumlah pixel yang dapat dihasilkan, yang diekspresikan sebagai resolusi pixel horizontal dan vertikal. Resolusi “sesungguhnya” dari sebuah proyektor adalah jumlah pixel maksimum yang dapat diproyeksikannya. Semakin tinggi tingkat resolusinya, semakin tinggi detil gambar yang dapat ditampilkannya. Berbicara mengenai tren resolusi proyektor, sebagian besar kini mulai beralih ke resolusi XGA (1024×768).
2. Kecerahan. Tingkat kecerahan (brightness) adalah ukuran luminansi (atau cahaya yang diterima) yang biasanya diukur dalam satuan ANSI (American National Standard Institute) lumens. Semua proyektor menggunakan sebuah lampu untuk menciptakan cahaya proyeksi. Keefisienan desain proyektor sangat menentukan seberapa besar brightness loss secara internal.
Sebuah proyektor berlumens tinggi umumnya berharga lebih tinggi dibandingkan yang berlumens rendah. Ukuran lumens ini juga sangat tergantung pada kebutuhan, misalnya. tingkat kecerahan cahaya di dalam suatu ruang
3. Warna. Warna adalah ukuran dari corak dan saturasi cahaya. Sebuah proyektor yang baik harus mampu mereproduksi secara akurat warna-warna yang dikirim dari sumber. Sebuah proyektor mencampurkan warna-warna merah, hijau dan biru (atau cyan, magenta, kuning, dan hitam dalam kasus skema warna CMYK) untuk mereproduksi warna-warna lainnya.
4. Contrast Ratio. Contrast ratio adalah ukuran perbandingan antara warna hitam dan putih. Tingkat contrast ratio yang tinggi merupakan indikasi mengenai seberapa baik suatu gambar bisa tampil baik di layar proyeksi, khususnya dalam hal kehalusan detil warna. Biasanya diukur dengan dua metoda, Full On/Off dan ANSI. Jadi, bila Anda hendak membandingkan contrast ratio dua buah proyektor, pastikan keduanya menggunakan metoda yang sama. Umumnya, metoda Full On/Off memberikan nilai contrast ratio yang lebih tinggi dibandingkan ANSI.

Sesuai kebutuhan
Di pasaran kini banyak dijumpai berbagai jenis proyektor digital dengan berbagai jenis teknologi dan karakteristik yang sangat bervariasi. Namun, untuk presentasi, orang kini cenderung memilih proyektor digital, karena selain kualitasnya mampu menampilkan gambar yang baik, bobotnya pun ringan, sehingga mudah dibawa.
Seberapa besar tingkat kecerahan proyektor yang Anda butuhkan?
Kecerahan (brightness) suatu proyektor biasanya diukur dalam satuan ANSI lumens. Proyektor-proyektor berteknologi LCD dan DLP kini hadir dalam berbagai ukuran dan tingkat kecerahan untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Proyektor portabel
Proyektor ultra-portabel (dengan berat berkisar 1,5 – 2,5 kg) umumnya memiliki tingkat kecerahan 800 – 2000 lumens. Presentasi dengan tingkat pencahayaan ruangan yang rendah atau gelap sebaiknya Anda hindari, karena itu akan mengurangi interaksi visual dengan audiens Anda. Proyektor dengan kecerahan 800 lumens sudah cukup memadai untuk ruang dimana cahaya ambient (cahaya yang berasal dari sumber cahaya di luar proyektor) relatif kecil. Jumlah audiens juga menjadi pertimbangan dalam memilih tingkat kecerahan yang tepat. Audiens yang besar membutuhkan tingkat output lumens yang tinggi pula.
Pilihlah tingkat kecerahan:
800 lumens untuk presentasi di ruang gelap, tingkat cahaya ambient rendah
1000 lumens untuk ruang dengan tingkat cahaya ambient sedang
2000 lumens untuk ruang dengan tingkat cahaya ambient tinggi
Proyektor untuk Ruang Kelas/Auditorium
Biasanya, proyektor-proyektor dengan tingkat kecerahan tinggi, antara 2500 – 7000 lumens tidak begitu portabel. Dengan berat berkisar 6,5 – 15 kg, proyektor semacam ini cocok untuk ruang konferensi, ruang kelas dan pelatihan.
2500 lumens untuk audiens kurang dari seratus dengan cahaya ambient
3000 lumens untuk audiens 100 – 200 orang dengan cahaya ambient
5000 lumens untuk audiens lebih dari 100 orang atau lebih, cahaya ambient terang
Bagaimana Anda mendapatkan gambar terbaik?
Memilih tingkat resolusi
Cara tercepat dan termudah untuk menjawab bagaimana memperoleh gambar terbaik adalah dengan menyesuaikan resolusi proyektor Anda dengan resolusi komputer. Resolusi XGA kini lebih banyak menguasai pasar dibandingkan SVGA atau SXGA.
Patut diingat, menilai kualitas gambar tidak hanya dilihat dari resolusinya. Keseragaman (uniformity) tingkat kecerahan juga menjadi faktor yang patut dipertimbangkan. Uniformity adalah persentase kecerahan dari ujung ke ujung dan tepi ke tepi gambar Anda. Tingkat uniformity yang tinggi menunjukkan tingkat konsistensi gambar yang semakin baik. Pilihlah proyektor dengan tingkat uniformity 85 persen atau lebih.
Fitur-fitur proyektor yang perlu Dipertimbangkan
1. Plug and play. Sebagian besar proyektor portabel masa kini umumnya sudah plug-and-play, user friendly dan bisa di-setting dengan cepat. Pokoknya, yang Anda butuhkan di tempat presentasi hanyalah soket listrik. Tancapkan ke soket listrik, proyektor Anda pun siap digunakan.
2. Fitur-fitur tambahan. Perlu diingat bahwa ada fitur-fitur khusus yang mungkin bisa memenuhi kebutuhan spesifik Anda. Fitur-fitur yang bisa menjadi pertimbangan, antara lain:
Memory card, yang dapat menggantikan peran notebook dalam menyimpan bahan presentasi.
Nirkabel (wireless) untuk mempermudah set-up.
Kemampuan networking untuk pengoperasian dari tempat lain yang berjauhan.
Digital keystone correction, untuk meningkatkan fleksibilitas penempatan proyektor.
Input video komponen untuk kualitas video yang lebih baik.
Lens shift, untuk set-up yang lebih nyaman.
3LCD Eliminasi Efek Pelangi
Gambar yang jernih, seindah warna aslinya, detail yang jelas, atau video yang tampil seperti aslinya tentu akan lebih menarik untuk dinikmati. Teknologi 3LCD memungkinkan hal-hal tersebut, sekaligus mengeliminasi efek pelangi (rainbow effect) yang kerap dikeluhkan para pengguna proyektor LCD biasa.
Sama-sama menempelkan kata “LCD”, teknologi 3LCD bekerja dengan cara yang agak berbeda dengan LCD. Sesuai namanya, ada 3 chip pada teknologi 3LCD. Begini cara kerjanya. Sinar putih diproyeksikan sumber cahaya ke cermin-cermin dichroic yang bertugas memecah sinar menjadi warna-warna dasar, yakni merah, hijau, dan biru. Ketiga warna ini lantas diproses oleh 3 chip LCD, sebelum dilewatkan melalui prisma dichroic dan lensa. Bedanya dengan LCD? Hanya ada satu chip di proyektor LCD dan rotating color wheel yang diputar dengan sangat cepat. Yang terakhir ini menyebabkan terjadinya color break-up (pecah warna) dan berbuntut pada rainbow effect. Proyektor yang menggunakan teknologi 3LCD memiliki kelebihan dalam pencahayaan dan gambar yang alami sehingga lebih nyaman dilihat
Hal lain adalah debu. Proyektor – seperti juga berbagai perangkat elektronik lainnya – bagaikan magnet bagi debu. Arus listrik dan panas adalah kombinasi yang pas untuk memancing datangnya debu dan minyak. Tumpukan debu ini akan menjadi masalah serius ketika komponen utama mulai dihinggapinya. Untungnya 3LCD proyektor datang dengan filter udara yang mudah diganti-ganti (replaceable). Ketika permukaan filter udara – yang bertugas memerangkap kotoran – sudah kotor, pengguna bisa segera menggantinya tanpa harus repot bongkar-bongkar proyektor.
Konten high definition yang mulai “harum” belakangan ini menjadikan kualitas output sebagai hal penting dalam bisnis proyektor. Kalau selama ini pengguna tak punya petunjuk sama sekali tentang kualitas proyektor yang dipakainya, sekarang ada Color Light Output. Fasilitas ini adalah cara sederhana, mudah, tapi akurat untuk mengukur kualitas gambar yang dihasilkan sebuah proyektor. Menurut TFC Associates (sebuah perusahaan riset khusus proyektor), salah satu faktor penting dalam membeli proyektor adalah kualitas gambar.
Di Sadur dari: http://catur.dosen.akprind.ac.id/2009/03…